“AIR MATA IMPIAN”
Disebuah desa dipinngir kota tinggal sebuah keluarga kecil yang  hidup sederhana yang menggantungkan hidupnya pada sebidang ladang yang tidak luas.mereka tinggal disebuah rumah yang mungkin tidak layak disebut rumah ,meskipun begitu keluarga ini selalu mensyukuri apa yang telah mereka peroleh selama ini, darsono sebagai tulang punggung keluarganya hanya seorang buruh tani dengan pendapatan yang tak tentu. Darsono harus mencukupi kebutuhan istri dan anaknya yang masih mengecam pendidikan.
Suatu ketika Senja mulai tampak dari barat seorang laki-laki parubaya mengangkat cangkul dan mengambil ubi yang hendak dia bawa kegubuknya, didepan gubuk anak dan isterinya pun dengan semangat menyambut kedatangannya,
barikpun segera mengambil barang bawaan ayahnya dan berkata :“pak, aku bawakan cangkul dan ubinya !” dengan segera darsono memberikan barang bawaannya kepada barik
Matahari mulai menghilang dengan perlahan  ,keluarga itupun berkumpul diteras depan gubuk mereka sambil memakan ubi yang telah darsono bawa dari ladangnya.
Barik pun berkata sesuatu kepada ayah dan ibunya “ pak,.buk… terima kasih ats semua yang telah bapak sama ibu berikan kepadaku, aku bangga dengan apa yang aku miliki sekarang dan aku bersyukur dapat makan walaupun dengan ubi ini.”

 Sitipun menitihkan air mata mendengar barik mengatakan seperti itu “maaf nak,,kami belum dapat memberikan apa yang seharusnya kamu dapatkan……..”
“Tidak bu, apa yg ku inginkan sudah saya dapatkan yaitu mendapatkan orang tua sebaik kalian itu sudah cukup bagi saya bahkan aku belum dapat membahagiakan kalian.” Sahut barik
“ Nak terima kasih telah dapat menerima keadaan ayah dan ibumu ini” jawab siti
Barikpun menjawab “ tidak perlu berkata seperti itu pak…. Aku akan selalu bangga dengan apa yang aku miliki sekarang” .
 setelah itu barik minta izin kpd ayah dan ibunya untuk masuk kedalam rumah.
Didekat jendela barik duduk sambil menatap terangnya cahaya bulan.Dia selalu berfikir  bagaimana membantu kedua orang tuanya , sambil menuju tempat tidur yang hanya beralaskan tikar terbesit difikirannya” apa aku harus menjadi pemulung…?” tanya barik dalam hatinya
Mungkin kalau itu baik aku iklas menjalinya” jawab barik dalam hatinya
perlahan matanyapun mulai menutup.
Tepat sepertiga malam barik terbangun, setelah itu barik bermunajat pada allah dg lirih sampai dia meneteskan air mata” ya allah terima kasih atas segala nikmat yang telah engkau berikan kepada aku, yaallah q mhon ya allah mudahkan rizki kedua orang tua ku, berilah kesehtan  dan ampunilah segala dosa mereka, hanya itu yang aku inginkan ya allah …amien…”
Setelah itu…..
Barik mempersiapkan keperluan ayahnya untuk berladang dan hari ini dia siap membantu ayahnya.
Mataharipun terbit darsono bersiap untuk pergi berladang , tidak ketinggalan barik juga ikut bersama ayanya “darsono bertanya” nak kenapa ikut ? apa sekolahmu libur ?
“tidak pak, aku hanya ingin mrmbantu bapak di ladang aku ingin menjadi nak yang berguna bagi kedua orang tua q .”sahut barik
“ nak  kalau kamu ingin menjadi berguna bagi ayah ibumu sekolahlah sekarang , ukirlah prestasi yang membanggakan itu akan membuat bapak ibumu ini senang”  jawab darsono
“baiklah pak,,,, aku berangkat kesekolah sekarang..”
Barik masuk kedalam rumah dan bersiap untuk pergi sekolah ketika hendak keluar dari rumah ia mendengar percakapan ayah dan ibunya
“pak, nanti kita makan apa persediaan beras kita sudah habis, ubi diladangpun sudah ayah cabut kemarin bagaiman pak….???” Tannya siti pada suaminya
“Bapak juga gak punya simpanan uang buk…begini saja buk mintalah sedikit nasi pada tetangga kita untuk barik saja kita tidak usah.” Jawab darsono
“Baiklah kalau begitu pak.”
Ditengah perjalanan barik terus memikirkan percakapan kedua orang tuanya dan memantapkan hatinya untuk bekerja  menjadi pemulung tanpa sapengetahuan siapapun dan tidak mrngganggu pelajarannya.
Bel pulangpun berbunyi barik bergegas merapikan buku2nya dan menunggu taman2nya pulang kerumah.
Perlahan siswa-siswi disekolahnya mulai tampak sepi tanpa membuang2 waktu barik pergi kebelakang sekolah tepatnya di tempat pembuangan sampah dia mencari sisa” sampah yang tidak ada gunanya, tapi itu sangat berharga bagi barik
“satu persatu bekas botol air mineral ia kumpulkan,
“ternyata ini yang dirasakan kedua orang tua q” kata barik dalam hati
Botol bekas pun terkumpul, dari bahan bekas yang ia kumpulkan ia hanya mendapatkan Rp 8.000 ia bersyukur ats itu dan menggunakan uang itu untuk membelikan makanan untuk kedua orang tuanya
“ assalamuailaikum” salam barik sambil mengetok-ketok pintu
“waalaikum salam “ jawab sang ibu sambil menuju pintu
“Oh kamu rik, kamu bawa apa itu “ penasaran sang ibu
“ oh ini makanan bu tadi diberi temen, ni untuk ibu sama bapak ya !” jawab barik
Kesokan harinya sepulang sekolah barik langsung menuju belakang sekolah tanpa memperduliakan temannya masih ada atau tidak. Seperti biasa barik mencari botol bekas, ketika ia hendak mengambil botol ia menemukan sebuah tulisan yang berbunyi” bahagiakan orang tuamu selagi masih ada sebelum mereka kembali kepemilikNya,apakah kamu sudah membahagiakan mereka ???”barikpun meneteskan air mata melihat tulisan itu dan barik merasa belum dapat membahagiyakan ortunya.
Dengan suara lirih barik berkata “Ya Allah tolong ridhoi aku melakukan pekerjaan ini berikanlah kebahagiaan bagi kedua orang tua q” tetes demi tetes membasahi pipinya.
            Waktu sudah menunnjukkan pukul 4 barik merenung di bawah pohon besar dibelakang sekolahnya,tiba2 dari arah barat datang seorang temannya yang sejak tadi mengikuti barik
” bari kenapa kamu disini?” tanya sinta
“ngak ngapa ngapain ?” jawab barik
“ jangan bohong padaku aku tahu hati kamu lagi gundah benarkan,,?
 “Aku bingung sin…bingun sekali ?” dengan berlinangan air mata barik menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada sinta
“menangis lah rik jika itu membuatmu tenang………….” Ucap sinta
“apakah hidup seperti ini sin ?, aku adalah anak yang durhaka, aku tidak bisa membahagiakan orang tua q bahkan aku membuat ortu ku tersenyum saja q tidak bisa,,,, apa q pantas disebut anak baik,,,,???” kata barik sampai tetes air matanya jatuh.
 Dengan kalimat lembut sinta mencoba menenangkan barik “asal kamu tahu rik kamu adalah teman yang paling baik yang aku kenal “
“ kamu bohong wat…. Aku tidak berguna” sahut barik
 Sinta mencoba meyakinkan barik dan akhirnya barik mau mendengarkan kata sinta. Setelah itu sinta berbicara kepada barik dan mencoba membantu barik dengan memberikan masukan yang mungkin dapat menjadi motivasi bagi barik. Sejak itu pertemanan mereka semakin erat
 Dalam hati barik berjanji akan membahagiakan orang tuanya dengan memberikan prestasi yang membanggakan dan ia bertekat untuk merubah kehidupan orang tuanya..

Bersambung………..